Saturday, June 22, 2019

Makalah Aplikasi Entrepreneurhip dalam Perspektif Pendidikan Islam

Aplikasi Entrepreneurhip dalam Perspektif
Pendidikan Islam

Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Aplikasi Entrepreneurship Pendidikan
Dosen Pengampu: Agus Salim, M.Pd

Disusun oleh : Kelompok 13
Muhammad Hafidzudin 2117275
Heru Kurnia 2118116
Imro’atul Kiptiyah
Ibnu Abdullah
Kelas C

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN 
TAHUN 2019


KATA PENGANTAR

   Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt., atas izinnyalah makalah ini yang berjudul “Aplikasi Entrepreneurship dalam Perspektif Pendidikan Islam” dapat terselesaikan. Salawat dan salam senantiasa kita curahkan pada junjungan kita nabi agung Muhammad saw., semoga kita semua mendapatkan syafa’atul udzmanya kelak fii yaumil akhir, aamiin.
    Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Aplikasi Entrepreneurship dalam Pendidikan. Di dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat bimbingan dari bapak dosen Agus Salim, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Aplikasi Entrepreneurship dalam Pendidikan, tak lupa juga ucapan terimaksih kami haturkan kepada teman-teman, khususnya teman-teman satu kelas mata kuliah ini.
  Kami sudah berusaha untuk menyusun makalah ini sabaik mungkin. Kemudian, walaupun begitu kritik dan saran dari pembaca sangatlah kami butuhkan, guna penyempurnaan penulisan makalah yang akan datang. Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi penulis sendiri pada khuusnya, dan para pembaca pada umumnya. Selamat membaca!




Pekalongan, 17 Mei 2019



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah................................................................................................4
Rumusan Masalah.........................................................................................................4
Tujuan Penelitian..........................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
Urgensi Entrepreneurship dalam Pendidikan Islam......................................................6
Konsep Entrepreneurship dalam Perspektif Pendidikan Islam.....................................7
Aplikasi Entrepreneurship dalam Perspektif Pendidikan Islam..................................13
BAB III PENUTUP
Simpulan.......................................................................................................................17
Saran.............................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................18


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
    Dewasa ini terdapat banyak sekali usaha yang berkembag pesat di masyarakat, dan melahirkan usaha-usaha baru di berbagai bidang. Enterpreneurship menjadi tren yang sangat diminati berbagai kalangan masyarakat di indonesia. Sehingga banyak perguruan tingi yang mengeluarkan mata kuliah enterpreneurship.
Enterpreneurship merupakan kemampuan untuk menerapkan solusi-solui kreatif terhadap masalah dan peluang guna memajukan atau memperkaya kehidupan manusia. Dalam melakukan bisnis seseorang dituntut untuk bisa berani mengambil resiko yang akan dihadapinya. Contohnya: dengan menggunakan uang tabungannya untuk memulai bisnis yang belum pasti akan kembali modal awal tersebut.
 Seorang enterpreneur yang berjiwa tangguh ulet tlaten dan berjiwa kepemimpinan untuk mengindikasikan adanya kemampuan mempengaruhi manusia dan menghasilkan rasa aman dengan melalui pendekatan secara emosional daripada otoriter.
  Pendidikan enterpreneurship sangatlah penting diberikan dkepada mahasiswa di perguruan tinggi. Melihat apa yang akan dihadapi mahhasiswa jika sudah lulus nanti, pendidikan enterpreneurship menjadi bekal kepada mahasiswa untuk lebih mempersiapkan dirinya untuk proses setelah kelulusan. Hal ini sesuai dengan anjuran agama yang menghendaki setiap umatnya untuk memiliki jiwa yang sudah dicontohkan melalui Nabi Muhammad SAW.
  Jika dilihat dari perspektif islam maka aplikasi enterpreneurship ini sesuai dengan yang diajarkan oleh baginda Nabi SAW. yang telah banyak diketahui bahwa beliau adalah seorang pengusaha sukses pada masa itu yang patut kita contoh sebagai suri tauladan umat islam. Maka dari itu, pemakalah berusaha memaparkan materi tentang aplikasi enterpreneurship dalam perspektif agama islam.

B. Rumusan masalah
1.   Bagaimana urgennya Entrepreneurship dalam pendidikan Islam ?
2. Bagaimana konsep Entrepreneurship dalam perspektif pendidikan Islam ?
3. Bagaimana aplikasi Entrepreneurship dalam perspektif pendidikan Islam ?

C. Tujuan 
1. Untuk mengetahui Bagaimana urgennya Entrepreneurship dalam pendidikan Islam
2.Untuk mengetahui konsep Entrepreneurship dalam perspektif pendidikan Islam
3.Untuk mengetahui aplikasi Entrepreneurship dalam perspektif pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Urgensi Entrepreneurship dalam Pendidikan Islam
     Istilah entrepreneurship pertama kali dikenalkan oleh Richard Cantillon seorang ahli ekonomi Prancis. Kalam karya monumentalnya yang berjudul ”Essai Sur La Nature Du Comerce end General”, Cantillon menyatakan seorang entrepreneur sebagai orang yang membayar harga tertentu untuk produk tertentu untuk kemudian di jual kembali dengan harga dinamis, sambil membuat keputusan-keputusan tentang upaya memperoleh dan memenfaatkan sumber-sumber daya dan menerima resiko berusaha.
     Secara herfiah entrepreneurship bersal dari bahasa Prancis entrepreneur yang berarti perantara. Dalm kamus umum bahasa indonesia entrepreneur diartikan sebagai “orang yang pandai atau berbakat dalam mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengedar produk baru, memasarkannya serta mengatur permodalan operasinya”.
   Perkembangan zaman yang semakin berkembang menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan, terutama pendidkan islam. Lembaga pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan zaman, anak, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik itu sendiri agar bisa mencapai kegiatan pembelajaran yang efektif dan inovatif.
   Pendidkan pada prinsipnya bertujuan mengantarkan peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang ada pada diri masing-masing peserta didik sehingga pada nantinya tumbuh menjadi manusia yang cakap, pandai, terampil, dan mau hidup mandiri, dan hidp secara layak dalam memenuhi segala kebutuhanya. 
     Upaya untuk menyiapkan manusia yang terampil dan mempunyai kemandiriaan, banayk dikembangkan pendidikan berbasis entrepreneurship. Pendidikan entrepreneurship diharapkan mampu membangkitkan semangan berwirusaha, berkarya, dan memngembangkan bakat masing-masing peserta didik sesuai potensi yang dimiliki untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mengembangkan konomi nasional.
   Jika di tinjau dari pendidikan islam, maka pendidikan entrepreneurship menjadi sangat penting sebagai upaya untuk merealisasikan dan mengenbangan pendidikan islam itu sendiri.  Tujuan pendidkan islam menurut M. Yusuf Al Qardhawi yaitu bahwasanya pemdidikan islam itu sendiri adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilanya. Sedangkan memurut Abidin Nata tujuan pendidikan ilam pada hakikatnya terealisasi dari cita-cita islam itu sendiri, yang menbawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin. 
Dalam al quran dan hadist banyak di jelaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah moralitas akhlak dan keahlian. Begitu pula nilai-nilai pendidikan entrepreneurship juga banyak di temui dalam alquran dan hadist, bahkan telah di contohkan oleh nabi sendiri.
    Karir nabi sebagai entrepeneur bisa di jelaskan secara sekila yaitu, pada usia 12 tahun nabi telah mengenal perdagangan yang dapat diistilahkan dengan magang (intership) sampai usia 17 tahun. kemuian nabi mulai membuka uahanya sendiri, bisa dikatakan dengan istilah Bussines Manager. Dalam berkembangan selanjutnya nabi di percaya utuk mengelola modal dari para investor mekkah (investor manager). Saat berusia 25 tahun dan menikah denga khadijah beliau menjadi mitra bisnis dengan sang istri. Sehingga beliau bisa dikatakan dengan Bussines Owner.  Setelah mengijak usia 30-an nabi mulai menjadi investor dan memiliki banyak waktu, untuk memikirkan kondisi masyarakat. Pada saat itu, beliau sudah mencapai apa yang di sebut dengan kebebasan uang (Financial Freedom).
     Maka dari itu, pendidikan islam harus mempunyai orietasi baru dalam pendidikan yaitu, hadirnya pendidikan islam berbasis entrepreneurship yang akan menghasilkan para entrepreneur yang berakhlakul karimah dan mempunyai keahlian yang kompenten, dengan harapan akan  mampu menjadi sumber-sumber kesejahteraan bagi masyarakat terlebih lagi untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
B. Entrepreneurship Dalam Perspektif Pendidikan Islam 
  Menelusuri titik pertemuan konsep-konsep lain ilmu pengetahuan tentang entrepreneurship yang bersifat relatif dengan nilai-nilai islam yang absolut. Sering kali menemukan kesulitan tersendiri. Untuk itu didalam makalah ini terdapat dua cara yang ditempuh dalam rangka menemukan titik singgung tersebut yaitu, pertama penelusuran berbasis sejarah islam yang relavan dengan masalah entrepreneurship.
   Dan kedua, mencari keterkaitan ajaran islam yang bersumber dari Al-qur’an dan As-Sunnah dengan konsep-konsep entrepreneurship yang ada.
Mengkaji entrepreneurship dalam perspektif islam melalui sudut pandang sejarah islam, meniscayakan seseorang untuk kembali menelaah sejarah agung nabi Muhammad SAW. Bahkan saja dikarenakan sang Nabi adalah pembawa risalah keislaman. Namun sejarah kehidupan beliau yang sangat kental dengan nilai-nilai dan prilaku entrepreneurship menjadikan sangat layak untuk dijadikan acuan. Bahkan, pada poin tertentu banyak ahli yang mengatakan islam adalah agama kaum pedagang, serta disebarkan keseluruh penjuru dunia setidaknya sampai abad ke-13 M juga oleh para pedagang muslim.
 Menurut Syafi’i Antonio, jiwa entrepreneurship dalam diri nabi Muhammad SAW. Tidak tertanam begitu saja, tetapi hasil dari proses panjang dari semenjak beliau masih kecil. Jauh sebelum diangkat menjadi nabi dari rosul, beliau sudah dikenal sebagai pedagang. Mulai sejak kecil beliau menunjukkan kesungguhannya terjun dalam bidang bisnis atau entrepreneurship. Beliau mulai merintis karir dagangannya saat berusia 12 tahun dan mulai usahanya sendiri ketika berusia 17 tahun.
    Profesi sebagai pedagang terus dilakukan sehingga beliau berumur 37 tahun (3 tahun sebelum beliau diangkat rosul). Hal ini menjelaskan bahwa nabi Muhammad memenuhi dunia bisnis (menjadi entrepreneurship) selama kurang lebih 25 tahun, lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung 23 tahun. 
    Terjunnya nabi Muhammad SAW. Dalam perniagaan sejak kecil tidak lepas dari kenyataan hidup yang menuntut beliau untuk belajar mandiri. Kelahiran beliau yang dalam keadaan yatim, umur 6 tahun menjadi yatim piatu, kondisi pas-pasan ekonomi. Pamannya yaitu Abu Thalib yang mengasuh belia, setelah kakeknya (Abduo Muthollib) yang mengasuh sebelumnya juga meninggal.
  Itulah yang mendorong beliau untuk berusaha meringankan beban ekonomi sang paman. 
Untuk itu beliau dalam keadaan umurnya yang masih belia, mau melakukan apa saja yang halal untuk memperkecil ketergantungannya kepada sang paman.
  Tatkala beliau mampu bekerja sendiri, beliau mengembala kambing milik penduduk Makkah dan menerima upah atas jasanya itu. Kegiatan mengembala kambing mengandung nilai-nilai yang luhur, pendidikan rohani latihan merasakan kasih sayang kepada kaum lemah, serta kemampuan mengendalikan pekerjaan berat dan besar.
     Ketika merintis karir didunia binis, Nabi Muhammad SAW. Mulai berdagang kecil-kecilan di kota Mekkah. Ia membeli barang-barang dari suatu pasar lalu menjualnya kepada orang lain. Nabi Muhammad juga menerima modal dari para Investor dan anak-anak yatim tidak sanggup menjalankan sendiri dana peninggalan orang tuanya, mereka sangat mempercayai nabi Muhammad untuk mengelola bisnis dengan uang mereka berdasarkan kerja sama mudabaroh.
  Dalam menjalankan bisnisnya, nabi Muhammad menghiasi diri dengan kedisiplinan, keajaran, keteguhan memegang janji dan sifat-sifat mulia lainnya, sehingga masyarakat sangat mempercayainya dan memberikan gelar Al-Amin kepadanya. Selain itu, beliau sangat gigih, andal dan cerdas dalam berbisnis. Tidak jarangbeliau memperoleh keutungan dua kali lipat dibanding para pedagang yang lainnya. Itulah sebabnya Khadijah sering kali memberikan bonus keuntungan kepada beliau selain dari keuntungan yang disepakati. Setelah menikah dengan Khadijah , beliau tetap meneruskan bisnisnya meskipun dengan posisi yang berbeda dibanding dengan sebelum beliau menikah. Sebelum menikah beliau menjadi project manajer bagi Khadijah, namun setelah menikah beliau menjadi joint dan supervisor bagi ajen-ajen perdagangan khadijah.
  Dalam ilmu entrepreneurship, yang dilakukan Nabi Muhammad pasca menikah merupakan suatu lompatan dari Quadran pekerja melompat menjadi Quadran Business Owner and Coinvestor. Dengan demikian beliau telah mengaplikasikan suatu teori yang oleh Robert T. Kiyosaki disebut Cashflow Quadrant. Padahal teori tersebut baru ia kemukakan skitar 15 abad kemudian setelah masa kehidupan Nabi Muhammad. 
   Ketika di Madinah, Nabi Muhammad membangun Pasar berorientasi syariat islam dan berbeda denga pasar-pasar yang dikuasai oleh Yahudi. Pasar tersebut langsung diawasi oleh Rosulullah. Beliau menertibkan segala sesuatunya, mengurus dan membimbing serta menyerahkan masyarakat setempat.
    Beliau ingin memastikan bahwa tidak ada lagi segala bentuk transaksi yang menyimpang dari ajaran islam seperti penipuan, kecurangan timbangan, penimbunan dari semacamnya.
    Berdasarkan paparan diatas karir nabi sebagai seorang entrepreneur bisa dijelaskan secara runtut yaitu, pada usia 12 tahun, nabi Muhammad telah mengenal perdagangan yang dapat di istilahkan dengan magang (intership). Hal itu terus beliau lakukan sampai berusia 17 tahun ketika beliau mulai membuka usaha sendiri. Saat itu beliau bisa dikatakan sudah menjadi Business Manager. 
    Dalam perkembangan selanjutnya, ketika beliau dipercaya untuk mengelola modal dari para investor Makkah, maka beliau bisa disebut sebagai investor Manager. Saat beliau berusia 25 tahun dan mnikah dengan Khadijah beliau menjadi mitra bisnis sang Istri, sehingga beliau bisa dikatakan sebagai business owner. Setelah menginjak 30-an, Nabi Muhammad menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu, untuk memikirkan kondisi masyarakat.
     Pada saat itu, beliau sudah mencapai apa yang disebut sebagai “kebebasan uang (financial freedom) dan waktu”. Sejak saat itu beliau sudah mulai menyendiri (tahannuts) ke Gua Hira’. Hal itu beliau lakukan kira-kira sejak usia 37 tahun dan pada umur 40 tahun beliau diangkat Nabi dan Rasul.
  Mengacu pada ulasan diatas, dapat disimpulkan bahwa masa kehidupan Muhammad saw. bisa diperiodesasikan menjadi 4 periode, yaitu: (1) masa kanak yaitu usia 0 – 12 tahun, (2) masa berdagang (entrepreneurship) yaitu pada rentan usia 12 – 37 tahun, periode (3) masa berkontemplasi dan refleksi yaitu antara usia 37 – 40 tahun, dan periode (4) masa kerasulan yaitu pada rentan usia 40 – 63 tahun. Dengan demikian masa entrepreneurship Nabi Muhammad dilakukan selama 25 tahun, yang berarti lebih lama dari pada masa kerasulan beliau yang dijalani selama 23 tahun saja. Adapun penelusuran konsep entrepreneurship dalam perspektif islam, melalui analisa keterkaitan ajaran islam dengan entrepreneurship itu sendiri, lebih merujuk pada kata atau kalimat yang dipakai al-Qur’an dan as-Sunnah yang relevan dengan entrepreneurship. Dalam hal ini ada beberapa kata, seperti al-„amal, al-kasb, al-fi‟il, as-sa‟yu, an-nashru, dan ash-sa‟n. meskipun masing-masing kata memiliki makna dan implikasi berbeda, namun secara umum deretan kata-kata tersebut berarti bekerja, berusaha, mencari rezeki, dan menjelajah (untuk bekerja).
    Secara makna harfiah, kata-kata diatas tidak ada yang secara jelas menunjukkan arti entrepreneurship. Tetapi dengan mengkomparasikan antara makna, maka karakter entrepreneurship bisa ditemukan. 
Dalam hal ini unsur-unsur dan Dalam hal ini unsur-unsur dalam karakteristik entrepreneurship yang terdapat dalam islam sebagai berikut:
1. Aktif
   Islam mendorong umatnya agar bersifat aktif, bekerja keras, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Islam sangat menghargai bahkan mengistimewakan orang islamyang memiliki karakter-karakter diatas. Dalam surah at-Taubah, Allah swt. berfirman dalam (QS. At-Taubah: 105) yang artinya : “ Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya dan orang-orang mumin akan melihat pekerjaanmjitu, dan kamu akan di kembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kau kerjakan.” (QS. at Taubah:105).
2. Produktif
  Secara teoritis produktivitas bisa diartikan sebagai sebuah interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor esensial, yaitu: investasi, manajemen, dan tenaga kerja.45 Produktivitas dengan makna seperti ini dapat diperoleh dari adanya kemampuan dan kemauan untuk berkompetensi, dengan sportiv, bebas, dan sikap profesionalisme yang tinggi. Jika demikian maka produktivitas semacam ini relevan dengan QS. Al-Mulk ayat 2 yang artinya : “ Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supya dia meguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih Banyak amalnya. Dana dia maha perkasa lagi maha pengampun. (QS. Al Mulk:2).
    Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa kita diciptakan untuk berkompetensi dalam kebaikan baik dalam hal duniawi maupun ukhrawi. Untuk itu seseorang harus senantiasa produktif, karena tanpanya kompetisi itu tidak ada. Selain itu untuk menciptakan budaya kompetensi yang dinamis, maka islam tidak membatasi produktivitas itu pada satu bidang, namun produktivitas itu digalahkan dalam bidang apapun sepanjang itu dibenarkan oleh syariat. Disinilah kebebasan berproduksi, dalam bidang apapun dijamin dalam islam.
3. Kreatif dan Inovatif
    Kreatif adalah karakter yang menjadikan seseorang selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna dan tidak terduga, tetapi dapat diimplementasikan dengan nyata.
    Cara berpikir dan berpreilaku inilah yang akan mengantarkan seseorang menjadi inovatif. Dengan memahami makna kreatif inovatif seperti ini maka kita akan menemukan betapa dalam islam terdapat nilai-nilai ajaran yang sangat relevan dengan hal tersebut. Dalam sebuah hadits dikatakan “Barang siapa menemukan sesuatu yang baru, maka baginya pahala atas penemuan itu dan pahala orang yang mengamalkannya”
4. Kalkulatif
   Kalkulatif dalam teori bisnis juga disebut berani mengambil resiko. Resiko merupakan sesuatu yang melekat di dalam aktivitas bisnis. Dalam bisnis setidaknya bisnis dibagi dalam dua kategori, yaitu: pertama, resiko yang sistematis. Resiko ini diakibatkan oleh adanya kondisi atau situasi tertentu yang bersufat makro, seperti perubahan politik, kebijakan ekonomi, perubahan pasar, krisis dan sebagainya yang berdampak pada kondisi ekonomi secara umum. Kedua, resiko yang tidak sistematis, yaitu resiko yang unik dan cenderung tidak diprediksi.
 Menghadapi kenyataan bisnis yang demikian, maka dalam perspektif ekonomi islam, seorang entrepreneurship muslim dituntut untuk selalu memperhitungkan segala kemungkinan resikoyang ada dalam aktivitas bisnis yang dijalani. Hal tersebut memiliki relevansi kuat dengan prinsip umum yang ada dalam ayat al-Qur’an:
 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18).
  Berangkat dari paparan di atas nampaknya entrepreneurship merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Entrepreneurship turut menentukan berhasil tidaknya upaya ekonomi yag dilakukan sebuah bangsa. Oleh karena itu, entrepreneurship ikut disepiritkan oleh agama, dimana agama selama ini masih dijadikan motivator utama oleh masyarakat negara tertentu dalam setiap aktifitasnya semisal masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, Islam yang merupakan agama dengan pemeluk mayoritas di Indonesia juga lantang mendorong entrepreneurship kepada penganutnya.
  Untuk itu, agar spirit islam tentang entrepreneurship semakin bisa dipahami dengan baik, maka ke depan perlu terus dilakukan kajian dan penelitian terkait agar entrepreneurship betul-betul bisa membumi di tengah masyarakat Indonesia.

C. Aplikasi enterpreneurship dalam perspektif pendidikan Islam
  Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan atau enterpreneurship ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup berat memiliki roh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.
     Dalam sebuah ayat Allah mengatakan “Bekerjalah kamu maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu” (Q.S At-taubah : 105), Oleh karena itu apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia atau Rizki Allah (Q.S Al Jumuah : 10), bahkan sabda Nabi Muhammad Saw., “sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardhu” (H.R Thabrani dan Baihaqi).
     Hal di atas jelas memberikan isyarat agar Manusia bekerja keras dan hidup mandiri bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan, prinsip kerja keras menurut Wafidhuddin adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan atau rezeki tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan atau resiko dengan kata lain orang yang berani melewati resiko akan memperoleh peluang rezeki yang besar.
      Aktivitas perdagangan merupakan salah satu aplikasi dari entrepreneurship dalam islam, nabi dan sahaabat juga dulu berdagang. Aplikasi perdagangan yang dilakukan nabi dan sebagian besar sahabat telah mengubah pandangan dunia, bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah tidak pula pada jabatan yang tinggi atau uang yang banyak melainkan pada pekerjaan.
    Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang disamping menyebarkan ilmu agama para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada masyarakat pesisir, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis keagamaan yang kuat. Kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal jigang ( ngaji dan dagang). 
   Adapun motif kegiatan berwirausaha dalam bidang perdagangan menurut ajaran agama Islam yaitu :
1. Pedagang bukan hanya untuk mencari untung
   Pekerjaan Berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang bertujuan untuk mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Hal ini sangat dilarang dalam agama Islam seperti diungkapkan dalam hadits Allah mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli dan waktu menagih hutang.
   Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai suatu pekerjaan yang rendahan karena biasanya berdagang dilakukan dengan penuh trik, penipuan, ketidakjujuran dan lain-lain.
2. Berdagang adalah hobi
  Konsep Berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina, mereka menekuni kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya.
Para pedagang China melakukan berbagai macam terobosan yaitu dengan :
a. open display atau melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik minat orang
b. window display atau melakukan pajangan di depan toko interior display atau pajangan yang disusun di dalam toko dan
c. close display atau pajangan khusus barang-barang berharga agar tidak dicuri oleh orang yang jahat. 
3. Berdagang adalah ibadah
   bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk ibadah pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena apapun yang kita lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan niat ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. 
   Para pedagang dapat mengambil barang dari tempat grosir dan menjual di tempatnya dengan demikian masyarakat yang ada disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama Sehingga nantinya akan terbentuk patronage buying motive yaitu suatu motif berbelanja ke toko tertentu saja.
  Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan pelayanan yang cepat membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja memberi potongan dan lain-lain. Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu kesehatan jasmani hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Rain yang menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berpikir tetapi untuk mengembalikan kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh frekuensi perbuatan baik.
4. Perintah bekerja keras
 Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karir seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. 
Perdagangan atau berwirausaha adalah pekerjaan Mulia.
Dalam Islam Pekerjaan berdagang Ini mendapat tempat terhormat dalam ajaran Islam seperti yang disabdakan Rasul mata pencaharian “apakah yang paling baik ya Rasulallah?” jawab beliau “ialah Seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih” (H.R Al bazzar), dalam Q.S al-baqarah : 275 dijelaskan bahwa Allah Swt., telah menghalalkan kegiatan jual beli dan mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan perdagangan tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar pada satu pihak saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup.
  Perilaku terpuji dalam perdagangan menurut Imam Ghazali, Sifat perilaku terpuji dalam perdagangan antara lain:
1. Mengambil laba sewajarnya
2. Manajemen utang piutang
   hutang Ini sudah melekat pada kehidupan masyarakat kita. Dosa hutang tidak akan hilang apabila tidak dibayarkan, bahkan orang yang mati syahid pun dosa utangnya tidak berampun. Jadi jika seseorang meninggal maka ahli warisnya wajib melunasi hutang tersebut, tapi jika orang tersebut telah berusaha membayarnya, tetapi memang betul-betul tidak mampu dan ia kemudian meninggal dunia maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjadi penjaminnya, seperti dalam hadis berikut “barangsiapa dari umatku yang punya hutang kemudian ia berusaha keras untuk membayarnya lalu ia meninggal dunia sebelum lunas hutangnya maka aku sebagai walinya” (H.R Ahmad).
3. Membina tenaga kerja bawahan
   Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus dilandasi oleh rasa kasih sayang saling membutuhkan dan tolong menolong. Hal ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang pekerjaan, pengusaha menyediakan lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah dari pengusaha. Pekerja menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan, majikan mempunyai hak untuk memerintah bawahan dan mendapat keuntungan majikan juga memiliki kewajiban yaitu membayar upah karyawan segera mungkin dan melindungi karyawannya seperti dalam hadis berikut “berikanlah kepada karyawan mu upahnya sebelum kering keringatnya” ( H.R Ibnu Majah), sebagai majikan Kita juga harus menyayangi dan memperlakukan bawahan dengan baik karena itu selaras dengan ajaran Islam.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
   Wirausaha berarti kegiatan mengerahkan segala tenaga, pikiran, ikhtiar, kerja keras, dan kerajinan bekerja yang senantiasa mencari perubahan agar lebih baik, dan pandai mencari peluang.
 Bekerja keras merupkan esensi dari kewirausahaan, menurut Wafidudin untuk memperoleh rezeki membutuhkan resiko ( kerja keras ).
  Keberhasilan seorang Entrepreneur dalam Islam sangat Independen, artinya keberhasilan terpusat pada integritas kepribadiannya, bukan di luar dirinya.
  Nabi Muhammad saw., merupakan contoh nyata Entrpreneur dalam Islam, Nabi saw., telah mencontohkan bagaimana aplikasi entrepreneurship yng baik menurut perspektif pendidikan Islam. Bagaimana harus selalu bertindak jujur dalam berwirausaha, mencari laba tidak keterlaluan atau secukupnya, memberikan keringanan pada pembeli yang kurang mampu dan lain sebagainya.
B. Saran
   Dengan ditulisnya makalah yang berjudul “Aplikasi Entreoreneurship dalam Perspektif Pendidikan Islam” ini, semoga dapat bermafaat bagi penulis sendiri pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.
  Setelah mengetahui bagaimana aplikasi entrepreneurship yang baik dan dianjurkan dalam agama Islam, dengan menerapkan akhlakul karimah dalam berwirausaha, jujur, kerja keras, diniati ibadah karena Allah swt., tidak mengambil laba atau untung terlalu banyak dan lain sebagainya, semoga hal ini dapat dipahami, diresapi dan kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Muhammad Syafi’i Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manajer.
2. Muhammad Anwar, 2014. Pengantar kewirausahaan, Teori dari Aplikasi.Jakarta : Prenada,.
3. Muhammad Syafi’i Antono. 2008. Muhammad SAW The Super Leader Supermanager. Jakarta : Tazkia Publishing Dan Prolm Entre
4. https://www.academia.edu. diakses pada tanggal 16 Mei 2019, pukul: 23.54
5. Ismail Faisal. 2008. Masa Depan Pendidkan Islam. Bandung: Alfabeta
6. Nata Abudin. 2001. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
7. Said Agil Huzaini Al Munawwar. Aktualisasi Nilai-Nilai Qurani dalam Sistem Pendidikan
Islam. Ciputat: PT. Ciputat Press
8.Darwis Muhammad. 2017. Entrepreneurship dalam Prespektif Islam, Meneguhkan
9.Paradigma Pertautan Agama dengan Ekonomi, Jurnal Iqthisoduna. Vol. 6, No. 1

Thursday, June 20, 2019

MAKALAH PENGELOLAAN KELAS

MAKALAH PENGELOLAAN KELAS
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Triana Indrawati, M.A


 Disusun Oleh :
1. Farkhatuttadzkiroh : 2117065
2. Sari Astuti : 2117117
3. Rizki Puja Aprilian : 2117126
4. Festi Alfon Faninda : 2117259
5. Muthoharoh : 2117357

KELAS E

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN Th. Ajaran 2018/2019


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. Atas izin-Nya makalah yang berjudul “Pengelolaan kelas” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw,sahabatnya,keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kami sudah berusaha menyusun makalah ini selengkap mungkin. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Triana Indrawati, M.A . Yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang. Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Pekalongan, Oktober 2018

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
     Sekolah adalah anak didik. Tugas utama pendidik(guru) adalah mengusahakan agar setiap anak didik dapat belajar dengan efektif baik secara individual ataupun secara kelompok. Mereka patut merasa betah atau merasa senang belajar di sekolah dan mereka dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi.
Penampilan fisik kelas yang anak-anak tinggali setiap harinya nampak kurang kondusif atas penciptaan kondisi belajar yang diinginkan. Berubah menjadi lebih baik, lebih bermutu dan lebih menyenangkan anak-anak.
Presentasi dan diskusi melalui naskah ini, diharapkan mendorong para peserta pelatihan memperoleh pemaknaan kembali mengenai arti pentingnya pengelolaan kelas sebagai pendukung terjadinya gairah proses belajar dan pencapaian prestasi belajar yang tinggi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengelolaan kelas ?
2. Apa peranan guru dalam pengelolaaan kelas ?
3. Apa perlunya strategi pengelolaan kelas? 4. Apa tujuan dari pengelolaan kelas ?
5. Apa saja prinsip-psinsip pengelolaan kelas?
6. Pendekatan apa saja yang ada dalam pengelolaan kelas?
7. Apa saja kegagalan dalam pengelolaan kelas?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pengelolaan kelas.
2. Untuk mengetahui peranan guru dalam pengelolaan kelas.
3. Untuk mengetahui perlunya strategi pengelolaan kelas.
4. Mengetahui tujuan pengelolaan kelas.
5. Mengetahui prinsip-prinsip pengelolaan kelas.
6. Mengetahui pendektn dalam pengelolaan kelas.
7. Mengetahui kegagalan yang dalam pengelolaan kelas.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengelolaan Kelas
     Kata “pengelolaan” yang identik dengan manajemen berasal dari bahasa Latin yaitu manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja manager yang artinya menangani.
Manager diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, untuk melakukan kegiatan manajemen titik akhirnya manajemen diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.
Suharsimi mengatakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan, atau penataan suatu kegiatan. Secara umum manajemen adalah suatu kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar yang didalamnya mencakup pengaturan siswa dan fasilitas, yang dikerjakan mulai terjadinya kegiatan pembelajaran di dalam kelas sampai berakhirnya pembelajaran di dalam kelas.
Adapun pengertian umum mengenai kelas yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula titik menurut Oemar Hamalik (1987), kelas adalah suatu kelompok yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru.
Definisi pengelolaan kelas atau manajemen kelas yang dipetik dari informasi pendidikan nasional adalah sebagai berikut: Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif yaitu seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas titik untuk itu disiplin sangat diutamakan. Pengelolaan kelas yang bersifat permisif titik pandangan ini menekankan bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa titik guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku yaitu seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau menghapuskan tingkah laku yang tidak diinginkan titik secara singkat guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement).
Pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim Sosio emosional yang positif di dalam kelas titik pandangan ini mempunyai anggapan dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan hubungan siswa antar siswa.
Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci yaitu mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat dengan demikian pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
Pengelolaan kelas bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok sebagai intinya. Dalam kaitan ini terdapat anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitanya dengan satu kelompok.
Dengan demikian kehidupan kelas sebagai sekelompok dipandang mempunyai pengaruh yang sangat berarti terhadap kegiatan belajar meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru adalah mendorong berkembangnya dan prestasinya sistem kelas yang efektif. Dengan demikian pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas.
Pengelolaan kelas sangat berkaitan dengan upaya upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif) di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.
Dalam pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting yaitu guru dan siswa. Guru dalam menjalankan fungsinya tidak hanya bertindak sebagai pemateri materi pelajaran tetapi juga dapat berfungsi sebagai pengelola atau “manajer” kelas. Adapun siswa ditempatkan tidak hanya sebagai objek yang menjadi sasaran pembelajaran tetapi juga dapat diposisikan sebagai subjek yang dinamis dan ikut dilibatkan dalam proses atau kegiatan pengelolaan kelas.
B. PERAN GURU DALAM PENGELOLAAN KELAS
    Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Tak ada guru, tak ada pendidikan, tidak proses pencerdasan, tanpa proses pencerdasan yang bermakna. Peranan guru sangat penting dalam pendidikan.
Baik buruknya suatu pendidikan dipengaruhi oleh bagaimana seorang guru dapat menyampaikan atau mengajarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan yang mampu membawa peserta didik mewujudkan cita-citanya, baik untuk dirinya, keluarga, masyakarat dan bangsanya.
Terkait dengan pentingnya peran seorang guru, maka seorang guru harus memiliki berbagai kemampuan, tidak hanya kemampuan akademik yang harus dimiliki oleh seorang guru mempunyai kemampuan untuk memotivasikan peserta didik, agar mau belajar yang nantinya akan meningkatkan prestasi serta cita-cita peserta didik.
Guru merupakan factor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan , karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan keseluruhan.
Ada peranan guru menurut pendapat para ahli berikut yang dikutip dalam buku Sardiman adalah: Prey katz menjelaskan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai orang yang menguasai bahan yang diajarkan. Havighurst menjelaskan peranan guru disekolah sebagai pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan(subordinate) terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejerawat, sebagai mediatora dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan penganti orang tua.
James W. brow mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru anatara lain menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
C. PERLUNYA STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
    Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid. Para pakar dalam manajemen kelas melaporkan bahwa ada perubahan dalam pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas.
Pandangan lama menekankan pada penciptaan dan pengaplikasian aturan untuk mengontrol tindak tunduk murid. Pandangan yang baru memfokuskan pada kebutuhan murid untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri.
Menejemen kelas yang mengorientasikan murid pada sikap pasif dan patuh pada aturan ketat dapat mengorientasikan murid pada sikap yang pasif dan patuh pada aturan ketat dapat melemahkan keterlibatan murid dalam pembelajaran aktif, pemikiran, dan kontruksi pengetahuan sosial.
Tren baru dalam manajemen kelas lebih menekankan pada bimbingan murid untuk menjadi lebih mau berdisiplin diri dan tidak terlalu menekankan pada control eksternal atas diri murid. Secara historis, dalam menejemen kelas, guru dianggap sebagai pengatur.
Dalam tren yang lebih menekankan pada pelajar, guru lebih dianggap sebagai pemandu, coordinator, dan fasilitator. Model menejemen kelas yang baru bukan mengarah pada mode permisif. Penekanan pada perhatian dan regulasi diri murid bukan berarti guru tak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di kelas.
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Pengelolaan kelas meliputi dua hal yakni: Pengelolaan yang menyangkut siswa Pengelolaan fisik (ruangan, prabot, alat pelajaran).
D. TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
     Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dikelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesiens.
Menurut Sudirman dalam Djamarah tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Tujuan Pengelolaan Kelas Menurut Ahmad bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut: Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai denganlingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Tujuan pengelolaan kelas menurut Arikunto berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Sebagai indicator dari sebuah kelas yang tertib apabila; setiap anak terus bekerja,tidak macet,artinya tidak ada anak yg terhenti karena tidak tau akan tugas yang di lakukan atau tidak dapat melakukan tugasyang di berikan kepadanya.
setiap anak terus melakukan pekerjaantanpa membuang waktu,artinya setiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang di berikan kepadanya.apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya ,tetapi mengerjakanya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib. E. PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN KELAS       “secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu: faktor intern dan ekstern siswa.” Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran dan perilaku.
Kepribadian siswa dengan ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya secara individual. Perbedaan secara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual dan psikologis. Faktor ektern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa dan sebagainya.
Masalah jumlah siswa dikelas akan mewarnai dinamika kelas. Djamarah menyebutkan “dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut: Hangat dan antusias Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
Tantangan Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang mentang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. Bervariasi Pengguanaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswaa.
Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif menghindari kejenuhan Keluwesan Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya. Penekanan pada hal-hal yang positif Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penanaman disiplin diri Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya meenjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab.
Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal. prinsip penataan kelasyang dapat anda pakai untuk menata kelas anda: kurangi kepadatan di tempat lalu-lalang.
Pastikan bahwa anda dapat dengan mudah melihat semua murid. Materi pengajaran dan pelengkapan murid harus mudah di aksess. Pastikan murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. F. PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Pendekatan Kekuasaan Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi disiplin kelas. Guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati.
Alangkah lebih baik jika sebelum memulai mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten mengikuti segala peraturan yang ditetapkan.
Pendekatan Ancaman Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
Ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Pendekatan Kebebasan Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja.
Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Pendekatan Resep Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Disamping itu, akan sangat baik jika guru meminta peserta didik untuk mengemukakan hal-hal yang mereka sukai dari proses pembelajaran. Semua komentar peserta didik hendaknya diperhatikan baik-baik, untuk kemudian diaplikasikan dalam tindakan nyata. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku peserta didik yang kurang baik.
Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik. Oleh karena itu buatlah perencanaan pembelajaran yang matang sebelum masuk kelas dan patuhilah tahapan-tahapan yang sudah dibuat sebelumnya.
Hiindari kebiasaan mengajar dengan apa adanya, apalagi tanpa perencanaan yang matang. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modivication approach) ini bertolak dari sudut pandang Psikologi Behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:
a. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental berupa penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extenction) dan penguatan negatif (negative reinformcement).
Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan).
Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik.
Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. Pendekatan Proses Kelompok Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampun guru dalam menciptakan momentum yang dapat mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok yang produktif.
Disamping itu, pendekatan ini juga mengharuskan guru untuk mampu menjaga kondisi hubungan antar kelompok agar dapat selalu berjalan dengan baik. Pendekatan Elektis atau Pluralistik Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali/ guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistic, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan kegiatan pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
G. KEGAGALAN PENGELOLAAN KELAS
    Doyle berpendapat bahwa hal-hal yang menyebabkan pengelolaan kelas tidak mudah tertera seperti dibawah ini: Berdimensi Banyak (Multidimensionality) Di kelas guru dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas yang meliputi tugas-tugas akademikserta tegas penunjangnya.
Yakni tugas-tugas administrative Serentak (Simultaneity) Berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama dikelas yang satupun tidak dapat ditunda. Misalnya saat diskusi guru harus mendengarkan, mengarahkan, serta membantu siswa yang kurang efektif dalam kegiatan.
Segera (immediacy) Dengan waktu yang cepat guru harus membaginya sedemikian hingga cukup efektif menghasilkan sesuatu yang dikuasai oleh siswa. Iklim kelas yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu Doyle menyatakan bahwa iklim kelas bukan semata-mata dari guru tetapi banyak faktor yang mempengaruhi dan terjadi secara tiba-tiba. Ketika ada pencuri masuk ke halaman sekolah.
Seketika suasana sekolah berubah tidak menentu. Dikelas siswa tidak dapat menerima pelajaran dengan tenang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas.
Baik buruknya suatu pendidikan dipengaruhi oleh bagaimana seorang guru dapat menyampaikan atau mengajarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan yang mampu membawa peserta didik mewujudkan cita-citanya, baik untuk dirinya, keluarga, masyakarat dan bangsanya.
Pengelolaan kelas meliputi dua hal yakni pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, prabot, alat pelajaran). Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dikelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesiens.
Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu:
Faktor intern dan ekstern siswa.
Saran Demikianlah makalah ini kami susun, kami menyadari dalam penulisaan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun kami perlukan untuk menyempurnakan makalah ini dan makalah yang akan kami buat selanjutnya. Semoga bermanfaat bagi pembacanya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Asih. 2016. Strategi Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia Mursalin, dkk. 2017. "Peran Guru Dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas di Gugus Bungong Seulanga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh”. Ilmiah Pendidikan Gurub Sekolah Dasar. Vol. 2 No. 1, FKIP Unsiyah 
3. Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Grup
4. Arikunto, Suharsimi. 1986. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Yogyakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan
5. El Hilali, Husni. 2012. Pentingnya Pengelolaan Kelas Dalam Pembelajaran. Edu-Bio, Vol. 3
6. Zahroh, Lailatu. 2015. Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas, Tasyri’ Vol. 22, Nomor 2, Oktober.